Sabtu, 23 Juni 2018

KEUNIKAN TRADISI POGERAHA ADJARA DI MUNA

    Masyarakat Muna memiliki beragam tradisi yang sangat unik. Salah satunya adalah pogeraha adjara yang merupakan trafisi adu kuda yang di lakukan hingga sekarang. Pogeraha adjara merupakan 
Salah satu tradisi yang sangat unik dimana kuda kuda saling di adu tetapi bukan untuk mencari siapa yang menang atau yang kalah, melainkan hanya di pertunjukan sebagai hiburan rakyat. 

Tata cara adu kuda
   Seminggu sebelum kuda diadu, pemilik kuda akan mengkandangkan kuda jantan yang akan di pakai dalam atraksi perkelahian. Kuda yang akan diadu yaitu kuda jantan yang kuat dan memiliki besar yang sama.
    Adu kuda biasanya dipimpin oleh seorang pawang yang mengendalikan jalannya pertarungan. Pawang bertugas memberi komando kepada para pemegang tali kekang untuk memisahkan kuda yang saling menggigit dengan cara menarik tali kekangnya. Hal ini dimaksud untuk meminimalisir luka pada kuda aduan. Demikian halnya jika kuda sudah tidak lagi berkelahi, maka pawang akan memerintahkan untuk menarik tali kekang masing-masing kuda.
    Pertunjukan adu kuda (pogeraha Adjara) dimulai dengan menampilkan kuda-kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan yang besar dan gagah. Di sisi yang berbeda, akan ada seekor kuda jantan lain dengan ukuran fisik yang sama besar dengan sang pemimpin kelompok betina. Kuda jantan asing tersebut akan berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina. Akibatnya kuda jantan pimpinan kelompok betina tersebut akan timbul nalurinya untuk mempertahankan betina-betina miliknya. Sehingga akan memicu terjadinya pertarungan antara dua jantan tersebut.Tidak ada istilah menang atau kalah dalam perkelahian itu. Tidak juga kuda diadu sampai menyebabkan luka parah, apalagi mati.

 Aturan yang diberlakukan dalam adu kuda ini yakni kuda adu hanya boleh saling beradu tendangan di udara (seperti terlihat pada gambar di samping). Adu tendangan inilah yang menjadi salah satu khas ciri dalam atraksi Adu Kuda.


Bagi kuda aduan yang mengalami luka-luka akibat pertarungan akan diobati dengan
cara yang unik. Luka tersebut akan diobati dengan menggunakan karbon dari baterai bekas yang dicampurkan dengan minyak tanah. Campuran karbon baterai dan minyak tanah tersebut dioleskan pada bagian luka sehingga mencegah luka mengeluarkan darah. Menurut masyarakat setempat obat ini dapat mencegah infeksi dan luka akan cepat mengering.
Selain memggunakan karbon baterai masyarakat Muna juga menggunakan daun lantana. Daun ini juga berfungsi untuk membuat luka pada kuda cepat mengering. Hanya dengan beberapa daun (4-5 helai daun) kemudian di remas-remas sehingga mengeluarkan air berwarna hijau dari daun lantana tersebut kemudia di tempel kan pada luka yang terdapat pada kuda.

Peranan Masyarakat Dalam pogeraha adjara 
Masyarakat adalah pendukung kebudayaan sekaligus berperan aktif dalam proses kebudayaan yang berasal dari dia sendiri dan akannterus dilestarikan secara turun temurun. Untuk tetap mempertahankan tradisi adu kuda (pogeraha adjara) masyarakat tetap berusaha agar  populasi kuda tidak sampai habis .Tradisi bukanlah hal yang sudah selesai dan berhenti, melainkan merupakan hal suatu hal yang masih ada dalam masyarakat dan terus berkembang.

Makna filosofis

Bupati Muna LM Baharuddin menyebutkan, adu kuda mengajarkan makna filosofis yang tinggi. Ia menjadi simbol soal harga diri yang harus dipertahankan.

”Dalam situasi normal, kuda jantan tidak akan bersikap agresif jika keluarga dalam kelompok yang dipimpinnya tak diganggu. Namun, sebaliknya, ia akan berjuang mati-matian membela keluarganya jika diganggu kuda lain,” kata Baharuddin.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar