Minggu, 24 Juni 2018

BEBERAPA MITOS YANG TERDAPAT DI MUNA

 1. Mitos Batu Berbunga atau kontu kowuna
Batu berbunga atau kontu kowuna adalah tiga buah batu besar yang berada di sekitar Kota Muna lama (Kota bekas Kerajaan Muna masa silam) yang konon katanya dapat berbunga atau  mengeluarkan tunas-tunas baru yang tumbuh seperti bunga karang pada waktu-waktu tertentu. Masyarakat Muna menyebutnya sebagai Kontu Kowuna yang berarti batu berbunga  Gugusan batu berbunga tersebut terletak di dekat masjid tua bernama Bahutara (bahtera). Menurut legenda masyarakat.  Masyarakat setempat menyebut tempat tersebut sebagai terdamparnya perahu Sawerigading, Putra Raja Luwu dari Sulawesi Selatan.
Kepercayaan masyarakat muna terhadap batu berbunga tersebut yang kini menjadi mitos yaitu konon katanya ketika malam jumad di sekitaran batu berbunga mengeluarkan aroma yang wangi. Pada dinding batu berbunga tersebut terdapat tulisan tulisan arab yang di gaibkan dan hanya orang orang tertentu yang dapat melihatnya.
Dibalik basis teori ilmiah terkait batu berbunga tersebut sekitar abad 14-an semasa Kerajaan Majapahit, konon tertulis cerita soal putri Raja yang jatuh sakit dan tidak bisa disembuhkan penyakitnya. Para tabib Kerajaan berpendapat bahwa penyakit putri Raja tersebut akan sembuh jika menggunakan Bunga Wijayakusuma. Singkat cerita, bunga Wijayakusuma tersebut hanya ditemukan di suatu tempat tertentu yang lokasinya berada di bagian wilayah timur kepulauan Nusantara pada masa itu. Berangkatlah para utusan Raja ke arah timur wilayah Nusantara dan berhasil menemukan bunga wijayakusuma dan putri raja sembuh. Pertanyaannya, apakah Kontu Kowuna itu adalah Bunga Wijayakusuma yang dimaksud? Inilah yang disebut sebagai “Misteri”. Jadi, kemisteriannya apakah bunga dari Kontu kowuna itu ialah bunga wijayakusuma? Sebuah misteri yang perlu diteliti dan dikaji secara ilmiah dan bernilai potensi wisata yang unik.

2. Danau lawulamoni


Tempat ini dulunya adalah sebuah kampung yaitu kampung lawulamoni, namun kampung ini menjadi longsor dan menjadi sebuah danau yang berdasarkan lumpur.
Danau lawulamoni ini terdapat buaya yang begitu banyak, namun konon katanya buaya yang menghuni danau tersebut adalah buaya siluman.
Dahulu ada seorang bapak yang di telan oleh buaya di danau itu, saat itu bapak itu berhasil menyelamatkan diri dari buaya tersebut menggunakan kris yang ada di pinggangnya, bapak itu merobek perut buaya tersebut dan berhasil keluar. Bahkan bapak yang di telan oleh buaya itu masih hidul hingga sekarang.
Itu lah sepenggal mitos tentang danau lawulamoni yang masih menjadi misteri higga kini.

3. Mitos betenonetombula

Betenonetombula. asal-usul manusia yang menjadi penguasa di daerah kepulauan di Sulawesi Tenggara. La Eli alias Baidulzamani, yang disebut sebagai raja pertama di Pulau Muna, menjadi legenda masyarakat Muna bahwa ia berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan, lalu muncul dari dalam lubang bambu saat ditemukan manusia yang telah lebih dulu membangun koloni di Wamelai dalam wilayah Tongkuno. Dikisahkan dalam tradisi lisan masyarakat Muna bahwa pada suatu hari, Mieno ( Pemimpin Wilayah ) Wamelai  akan mengadakan  pesta raya, seluruh masyarakat  Muna di delapan wilayah dikumpulkan untuk turut membantu mempersiapkan pelaksanaan pesta tersebut.
Sekelompok orang yang ditugaskan untuk mencari bamboo dihutan, menemukan seorang lelaki yang gagah perkasa di dalam rumpun bamboo yang akan ditebang, ada juga yang mengisahkan bahwa manusia  tersebut ditemukan dalam ruas bamboo.Karena penemuan tersebut dianggap aneh, lelaki itu kemudian  dibawah menghadap pada mieno Wamelai . Dihadapan mieno Wamelai  dan pemimpin wilayah lainnya lelaki itu mengaku bernama  LA ELI  alias BAILDHUL  JAMAANI  Putra Raja Luwu di Sulawesi selatan. Dituturkan dalam tradisi lisan, kedatangan LA ELI  alias BAILDHUL  JAMAANI  di Muna untuk menunggu  istrinya yang saat ini sedang hamil dan akan datang menemui dirinya. Tempat pertemuan yang mereka sepakati
untuk pertemuan itu adalah Pulau Muna ( Wuna).Selang beberapa hari setelah penemuan manusia dalam rumpun bamboo tersebut, tersiar  kabar bahwa di Lohia pesisir Timur Pulau Muna, tepatnya di Curuk Napabale ditemukan seorang wanita cantik. Wanita tersebut mengaku bernama WA TANDI ABE .  berasal dari kerajaan Banggai di Sulawesi Tengah, dia datang di Muna dengan menumpang sebuah talang dan terdampar ditempat itu. Tujuan kedatangannya adalah  untuk bertemu dengan suaminya yang telah menungguhnya disuatu tempat dimana talang yang ditumpanginya terdampar.
Kabar tentang terdamparnya seorang wanita di Lohia tersebut  tersebar luas begitu cepat dikalaangan masyarakaat. Pada suatu hari kabar itu  sampai juga ditelinga MIENO WAMELAI di Tongkuno, sehingga beliau memerintahkan agar wanita tersebut di dibawa menghadap dirinya guna dipertemukan dengan LA ELI alias BAIDHULJAMANI  untuk di konfrontir.Ternyata  setalah dipertemukan keduanya mengaku sebagai suami istri dan mereka yang saling mencari  . Dalam pertemuan tersebut Wa Tandi Abe juga mengaku dalam keadaan hamil, dan janin dalam rahimnya tersebut adalah darah daging dari LA ELI alias BAIDHUL JAMANI suaminya yang ada dihadapannya saat ini.Karena peristiwa itu dianggap luar biasa dan tidak lazim, maka rapat dewan adat menyepakati untuk ‘memingit’  keduanya dalam sebuah kelambu selama tujuh hari tujuh malam. Tujuan pemingitan adalah untuk  mencegah hal-hal negative yang timbul akibat penemuan dua orang yang aneh tersebut dan mengaku sebagai Suami istri.Setelah tujuh hari dalam  ‘pingitan’, ternyat tidak ada  kejadian  yang luar biasa sehingga  keduanya di keluarkan dari pingitan kemudian di nikahkaan kembali menurut adat yang berlaku dikalangan masyarakat Muna.
Peristiwa pemingitan tersebut akhirnya menjadi tradisi dan menjadi syarat yang harus dilalui seseorang yang akan menjadi Raja Muna.  Peristiwa ini juga menjadi tradisi  yang harus dilalui seorang wanita  yang telah memasuki usia baliqh sebagai tanda kalau wanita tersebut sudah siap untuk dinikahkan. Tradisi ini diberi nama ‘ Kaghombo’ dan masih terpelihara dengan baik sampai saat ini. Perkawinan itu melahirkan tiga anak. Salah seorang di antaranya bernama Kaghua Bhangkano yang kemudian menjadi Raja Muna II dengan gelar Sugi Patola. Sugi berarti ’Yang Dipertuan’. Lakilaponto Raja Muna VII dan Raja Buton VI lalu menjadi Sultan Buton pertama dengan sebutan Murhum (almarhum) setelah mangkat, berasal dari garis keturunan sugi tersebut.

Sabtu, 23 Juni 2018

KEUNIKAN TRADISI POGERAHA ADJARA DI MUNA

    Masyarakat Muna memiliki beragam tradisi yang sangat unik. Salah satunya adalah pogeraha adjara yang merupakan trafisi adu kuda yang di lakukan hingga sekarang. Pogeraha adjara merupakan 
Salah satu tradisi yang sangat unik dimana kuda kuda saling di adu tetapi bukan untuk mencari siapa yang menang atau yang kalah, melainkan hanya di pertunjukan sebagai hiburan rakyat. 

Tata cara adu kuda
   Seminggu sebelum kuda diadu, pemilik kuda akan mengkandangkan kuda jantan yang akan di pakai dalam atraksi perkelahian. Kuda yang akan diadu yaitu kuda jantan yang kuat dan memiliki besar yang sama.
    Adu kuda biasanya dipimpin oleh seorang pawang yang mengendalikan jalannya pertarungan. Pawang bertugas memberi komando kepada para pemegang tali kekang untuk memisahkan kuda yang saling menggigit dengan cara menarik tali kekangnya. Hal ini dimaksud untuk meminimalisir luka pada kuda aduan. Demikian halnya jika kuda sudah tidak lagi berkelahi, maka pawang akan memerintahkan untuk menarik tali kekang masing-masing kuda.
    Pertunjukan adu kuda (pogeraha Adjara) dimulai dengan menampilkan kuda-kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan yang besar dan gagah. Di sisi yang berbeda, akan ada seekor kuda jantan lain dengan ukuran fisik yang sama besar dengan sang pemimpin kelompok betina. Kuda jantan asing tersebut akan berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina. Akibatnya kuda jantan pimpinan kelompok betina tersebut akan timbul nalurinya untuk mempertahankan betina-betina miliknya. Sehingga akan memicu terjadinya pertarungan antara dua jantan tersebut.Tidak ada istilah menang atau kalah dalam perkelahian itu. Tidak juga kuda diadu sampai menyebabkan luka parah, apalagi mati.

 Aturan yang diberlakukan dalam adu kuda ini yakni kuda adu hanya boleh saling beradu tendangan di udara (seperti terlihat pada gambar di samping). Adu tendangan inilah yang menjadi salah satu khas ciri dalam atraksi Adu Kuda.


Bagi kuda aduan yang mengalami luka-luka akibat pertarungan akan diobati dengan
cara yang unik. Luka tersebut akan diobati dengan menggunakan karbon dari baterai bekas yang dicampurkan dengan minyak tanah. Campuran karbon baterai dan minyak tanah tersebut dioleskan pada bagian luka sehingga mencegah luka mengeluarkan darah. Menurut masyarakat setempat obat ini dapat mencegah infeksi dan luka akan cepat mengering.
Selain memggunakan karbon baterai masyarakat Muna juga menggunakan daun lantana. Daun ini juga berfungsi untuk membuat luka pada kuda cepat mengering. Hanya dengan beberapa daun (4-5 helai daun) kemudian di remas-remas sehingga mengeluarkan air berwarna hijau dari daun lantana tersebut kemudia di tempel kan pada luka yang terdapat pada kuda.

Peranan Masyarakat Dalam pogeraha adjara 
Masyarakat adalah pendukung kebudayaan sekaligus berperan aktif dalam proses kebudayaan yang berasal dari dia sendiri dan akannterus dilestarikan secara turun temurun. Untuk tetap mempertahankan tradisi adu kuda (pogeraha adjara) masyarakat tetap berusaha agar  populasi kuda tidak sampai habis .Tradisi bukanlah hal yang sudah selesai dan berhenti, melainkan merupakan hal suatu hal yang masih ada dalam masyarakat dan terus berkembang.

Makna filosofis

Bupati Muna LM Baharuddin menyebutkan, adu kuda mengajarkan makna filosofis yang tinggi. Ia menjadi simbol soal harga diri yang harus dipertahankan.

”Dalam situasi normal, kuda jantan tidak akan bersikap agresif jika keluarga dalam kelompok yang dipimpinnya tak diganggu. Namun, sebaliknya, ia akan berjuang mati-matian membela keluarganya jika diganggu kuda lain,” kata Baharuddin.