Batu berbunga atau kontu kowuna adalah tiga buah batu besar yang berada di sekitar Kota Muna lama (Kota bekas Kerajaan Muna masa silam) yang konon katanya dapat berbunga atau mengeluarkan tunas-tunas baru yang tumbuh seperti bunga karang pada waktu-waktu tertentu. Masyarakat Muna menyebutnya sebagai Kontu Kowuna yang berarti batu berbunga Gugusan batu berbunga tersebut terletak di dekat masjid tua bernama Bahutara (bahtera). Menurut legenda masyarakat. Masyarakat setempat menyebut tempat tersebut sebagai terdamparnya perahu Sawerigading, Putra Raja Luwu dari Sulawesi Selatan.
Kepercayaan masyarakat muna terhadap batu berbunga tersebut yang kini menjadi mitos yaitu konon katanya ketika malam jumad di sekitaran batu berbunga mengeluarkan aroma yang wangi. Pada dinding batu berbunga tersebut terdapat tulisan tulisan arab yang di gaibkan dan hanya orang orang tertentu yang dapat melihatnya.
Dibalik basis teori ilmiah terkait batu berbunga tersebut sekitar abad 14-an semasa Kerajaan Majapahit, konon tertulis cerita soal putri Raja yang jatuh sakit dan tidak bisa disembuhkan penyakitnya. Para tabib Kerajaan berpendapat bahwa penyakit putri Raja tersebut akan sembuh jika menggunakan Bunga Wijayakusuma. Singkat cerita, bunga Wijayakusuma tersebut hanya ditemukan di suatu tempat tertentu yang lokasinya berada di bagian wilayah timur kepulauan Nusantara pada masa itu. Berangkatlah para utusan Raja ke arah timur wilayah Nusantara dan berhasil menemukan bunga wijayakusuma dan putri raja sembuh. Pertanyaannya, apakah Kontu Kowuna itu adalah Bunga Wijayakusuma yang dimaksud? Inilah yang disebut sebagai “Misteri”. Jadi, kemisteriannya apakah bunga dari Kontu kowuna itu ialah bunga wijayakusuma? Sebuah misteri yang perlu diteliti dan dikaji secara ilmiah dan bernilai potensi wisata yang unik.
2. Danau lawulamoni
Tempat ini dulunya adalah sebuah kampung yaitu kampung lawulamoni, namun kampung ini menjadi longsor dan menjadi sebuah danau yang berdasarkan lumpur.
Danau lawulamoni ini terdapat buaya yang begitu banyak, namun konon katanya buaya yang menghuni danau tersebut adalah buaya siluman.
Dahulu ada seorang bapak yang di telan oleh buaya di danau itu, saat itu bapak itu berhasil menyelamatkan diri dari buaya tersebut menggunakan kris yang ada di pinggangnya, bapak itu merobek perut buaya tersebut dan berhasil keluar. Bahkan bapak yang di telan oleh buaya itu masih hidul hingga sekarang.
Itu lah sepenggal mitos tentang danau lawulamoni yang masih menjadi misteri higga kini.
3. Mitos betenonetombula
Betenonetombula. asal-usul manusia yang menjadi penguasa di daerah kepulauan di Sulawesi Tenggara. La Eli alias Baidulzamani, yang disebut sebagai raja pertama di Pulau Muna, menjadi legenda masyarakat Muna bahwa ia berasal dari Luwu, Sulawesi Selatan, lalu muncul dari dalam lubang bambu saat ditemukan manusia yang telah lebih dulu membangun koloni di Wamelai dalam wilayah Tongkuno. Dikisahkan dalam tradisi lisan masyarakat Muna bahwa pada suatu hari, Mieno ( Pemimpin Wilayah ) Wamelai akan mengadakan pesta raya, seluruh masyarakat Muna di delapan wilayah dikumpulkan untuk turut membantu mempersiapkan pelaksanaan pesta tersebut.
Sekelompok orang yang ditugaskan untuk mencari bamboo dihutan, menemukan seorang lelaki yang gagah perkasa di dalam rumpun bamboo yang akan ditebang, ada juga yang mengisahkan bahwa manusia tersebut ditemukan dalam ruas bamboo.Karena penemuan tersebut dianggap aneh, lelaki itu kemudian dibawah menghadap pada mieno Wamelai . Dihadapan mieno Wamelai dan pemimpin wilayah lainnya lelaki itu mengaku bernama LA ELI alias BAILDHUL JAMAANI Putra Raja Luwu di Sulawesi selatan. Dituturkan dalam tradisi lisan, kedatangan LA ELI alias BAILDHUL JAMAANI di Muna untuk menunggu istrinya yang saat ini sedang hamil dan akan datang menemui dirinya. Tempat pertemuan yang mereka sepakati
untuk pertemuan itu adalah Pulau Muna ( Wuna).Selang beberapa hari setelah penemuan manusia dalam rumpun bamboo tersebut, tersiar kabar bahwa di Lohia pesisir Timur Pulau Muna, tepatnya di Curuk Napabale ditemukan seorang wanita cantik. Wanita tersebut mengaku bernama WA TANDI ABE . berasal dari kerajaan Banggai di Sulawesi Tengah, dia datang di Muna dengan menumpang sebuah talang dan terdampar ditempat itu. Tujuan kedatangannya adalah untuk bertemu dengan suaminya yang telah menungguhnya disuatu tempat dimana talang yang ditumpanginya terdampar.
Kabar tentang terdamparnya seorang wanita di Lohia tersebut tersebar luas begitu cepat dikalaangan masyarakaat. Pada suatu hari kabar itu sampai juga ditelinga MIENO WAMELAI di Tongkuno, sehingga beliau memerintahkan agar wanita tersebut di dibawa menghadap dirinya guna dipertemukan dengan LA ELI alias BAIDHULJAMANI untuk di konfrontir.Ternyata setalah dipertemukan keduanya mengaku sebagai suami istri dan mereka yang saling mencari . Dalam pertemuan tersebut Wa Tandi Abe juga mengaku dalam keadaan hamil, dan janin dalam rahimnya tersebut adalah darah daging dari LA ELI alias BAIDHUL JAMANI suaminya yang ada dihadapannya saat ini.Karena peristiwa itu dianggap luar biasa dan tidak lazim, maka rapat dewan adat menyepakati untuk ‘memingit’ keduanya dalam sebuah kelambu selama tujuh hari tujuh malam. Tujuan pemingitan adalah untuk mencegah hal-hal negative yang timbul akibat penemuan dua orang yang aneh tersebut dan mengaku sebagai Suami istri.Setelah tujuh hari dalam ‘pingitan’, ternyat tidak ada kejadian yang luar biasa sehingga keduanya di keluarkan dari pingitan kemudian di nikahkaan kembali menurut adat yang berlaku dikalangan masyarakat Muna.
Peristiwa pemingitan tersebut akhirnya menjadi tradisi dan menjadi syarat yang harus dilalui seseorang yang akan menjadi Raja Muna. Peristiwa ini juga menjadi tradisi yang harus dilalui seorang wanita yang telah memasuki usia baliqh sebagai tanda kalau wanita tersebut sudah siap untuk dinikahkan. Tradisi ini diberi nama ‘ Kaghombo’ dan masih terpelihara dengan baik sampai saat ini. Perkawinan itu melahirkan tiga anak. Salah seorang di antaranya bernama Kaghua Bhangkano yang kemudian menjadi Raja Muna II dengan gelar Sugi Patola. Sugi berarti ’Yang Dipertuan’. Lakilaponto Raja Muna VII dan Raja Buton VI lalu menjadi Sultan Buton pertama dengan sebutan Murhum (almarhum) setelah mangkat, berasal dari garis keturunan sugi tersebut.





